Kamis, 15 November 2012

Kepemimpinan Menurut Hindu


Pendahuluan
          Seorang yang memiliki kemampuan untuk menyatukan berbagai pandangan yang berbeda disebut pemimpin. Seorang pemimpin perlu memiliki seni untuk memimpin orang orang, seni tersebut sering disebut dengan istilah kepemimpinan.
Banyak orang bisa menjadi pimpinan, tetapi tidak banyak di anatara yang bersangkutan bisa menjadi pemimpin karena yang bersangkutan harus memahami dan mengerti tentang kepemimpinan.  
Pengertian Kepemimpinan
Secara umum, kepemimpinan diartikan sebagai kemampuan untuk mengkoordinir dan mengerahkan orang-orang serta golongan-golongan untuk tujuan yang Bahasan mengenai pemimpin dan kepemimpinan pada umumnya menjelaskan bagaimana untuk menjadi pemimpin yang baik, gaya dan sifat yang sesuai dengan kepemimpinan serta syarat-syarat apa yang perlu dimiliki oleh seorang pemimpin yang baik.
Menyimak pengertian di atas maka terkait dengan kepemimpinan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Pertama, kepemimpinan selalu melibatkan orang lain sebagai pengikut. Kedua, dalam kepemimpinan terjadi pembagian kekuatan yang tidak seimbang antara pemimpin dan yang dipimpin. Ketiga, kepemimpinan merupakan kemampuan menggunakan bentuk-bentuk kekuatan untuk mempengaruhi perilaku orang lain. Keempat, kepemimpinan adalah suatu nilai (values), suatu proses kejiwaan yang sulit diukur. Kata kepemimpinan berasal dari kata dasar pimpin yang artinya bimbing atau tuntun. Dari kata pimpin lahirlah kata kerja memimpin yang artinya membimbing atau menuntun, da kata benda pemimpin yaitu orang yang berfungsi memimpin atau menuntun atau orang yang membimbing. Kepemimpinan memiliki berbagai istilah seperti : Leadership “leader” dari kata asing, management dari kata ilmu administrasi dan Nitisastra dari kata Hindu.
Kepemimpinan dalam Hindu
Dalam agama Hindu, banyak ditemukan istilah yang menunjuk pada pengertian pemimpin. Bila bakat kepemimpinannya yang menonjol dan mampu memimpin sebuah organisasi dengan baik disebut Ksatriya, karena kata ksatriya artinya yang memberi perlindungan. Demikian pula yang memiliki kecerdasan yang tinggi, senang terjun di bidang spiritual, ia adalah seorang Brahmana. Demikian pula profesi-profesi masyarakat seperti pedagang, bussinessman, petani, nelayan dan sebagainya.
Dalam sejarah Hindu banyak contoh pemimpin yang perlu dijadikan suri teladan. Di setiap jaman dalam sejarah Hindu selalu muncul tokoh yang menjadi pemimpin. Sebut saja Erlangga, Sanjaya, Ratu Sima, Sri Aji Jayabhaya, Jayakatwang, Kertanegara, Hayam Wuruk, Gajah Mada, dan masih banyak lagi lainnya. Di era sekarang banyak tokoh Hindu yang juga dapat dijadikan sebagai panutan/pimpinan seperti : Mahatma Gandhi, Svami Vivekananda, Ramakrsna, Sri Satya Sai dan sebagainya.
Selain itu contoh kepemimpinan Hindu yang ideal dapat ditemukan dalam cerita Itihasa dan Purana. Banyak tokoh dalam cerita tersebut yang diidealkan menjadi pemimpin Hindu. Misalnya: Dasaratha, Sri Rama, Wibhisana, Arjuna Sasrabahu, Pandudewanata, Yudisthira dan lain-lain.

Kepemimpinan Hindu dan Niti Sastra
Kitab atau susastra Hindu yang banyak mengulas tentang konsep-konsep kepemimpinan termasuk etika dan moral di dalamnya disebut dengan kitab “Niti Sastra”. Kata ini berasal dari Kata Sanskerta “ niti ” yang berarti bimbingan, dukungan, bijaksana, kebijakan, etika. Sedangkan “ sastra “ berarti perintah, ajaran, nasihat, aturan, teori, dan tulisan ilmiah. Berdasarkan uraian diatas di atas maka kata Nitisastra berarti ajaran pemimpin. Dengan demikian ruang lingkup niti sastra tentu sangat luas mencakup pula etika, moralitas, sopan santun dan sebagainya. Dari pemahaman etimologis tersebut maka “ niti sastra ” dapat diartikan sebagai keseluruhan sastra yang memberikan ketentuan, bimbingan, arahan bagi umat manusia dalam berbagai aspek kehidupan agar menjadi lebih teratur, terarah, dan lebih baik.
Selama ini fokus atau pokok bahasan yang menjadi topik dari niti sastra adalah Kautilya Artha Sastra. Hal ini disebabkan oleh beberapa alasan sebagai berikut: Pertama, Kautilya adalah ahli politik dan kenegaraan tersohor; Kedua, kelengkapan dan kecermatan Kautilya dalam menyusun karyanya; Ketiga, bahasanya sangat mendetail; Keempat, perbandingan opini penyusun sebelumnya; Kelima, ketersediaan dokumen dan hanya dokumen Kautilya Artha Sastra ditemukan secara utuh.
Untuk memahami kepemimpinan Hindu atau kepemimpinan yang universal, seseorang dianjurkan untuk mempelajari niti sastra. Mengingat, pengetahuan dan pemahaman sejarah/konsep pemikiran Hindu (niti sastra) di bidang Politik, ketatanegaraan, ekonomi, dan hukum yang masih relevan sampai kini. Konsep-konsep tersebut adalah sumber penting yang memberi kontribusi perkembangan konsep-konsep selanjutnya  di India, Asia bahkan, dunia. Adapun kontribusi niti sastra dalam peradaban global antara lain :
·         Pemikiran dalam niti sastra dapat memberi masukan penting berupa konsep dan nilai positif dalam pengembangan, pembaharuan, penyusunan kembali konsep-konsep politik, ketatanegaraan, ekonomi, peraturan hukum era kini.
·         Usaha menggali, mengangkat nilai-nilai Hindu sebagai sumbangan Hindu dalam percaturan dunia keilmuan. Paradigma sosial bahwa politik itu kotor dapat hilang.

Tujuan Kepemimpinan Hindu
Negara sebagai wadah umat  manusia untuk mewujudkan cita – cita hidupnya memiliki empat prinsip dasar. Antara lain sebagai berikiut :
1.       Machstaat adalah prinsip Negara untuk menguasai segala potensi yang dimiliki oleh negarayang bersangkutan untuk diabdikan kembali pada tujuan masyarakat Negara itu.
2.       Rechtaat adalah prinsip Negara yang bertujuan untuk mengatur kehidupan Negara yang bertujuan untuk mengatur kehidupan Negara agar berbagai keadaan dan kepentingan yang berbeda – beda dapat diatur dalam rangka mempercepat tercapainya tujuan Negara.
3.       Polisistaat adalah suatu prinsip Negara yang memandang segala seluk beluk kehidupan Negara harus dijaga agar tidak terjadi penyimpangan – penyimpangan demi terwujudnya tujuan Negara tepat pada sasarannya.
4.       Supervisorystaat adalah prinsip Negara yang memandang bahwa fungsi Negara ialah mendorong segala unsur – unsur Negara untuk lebih cepat mencapai tujuan.
Bagi umat yang mendapat kesempatan sebagai pemimpin Negara, tuntunan ajaran agama hindu bertujuan untuk membentuk kepemimpinan Negara yang baik,kuat, bersih, dan berwibawa.
Masyarakat akan lebih mudah diatur oleh para pemimpin Negara apabila dalam masyarakat itu tiap – tiap anggotanya  sadar akan hak dan kewajibannya. Kesejahteraan masyarakat Negara akan terwujud apabila setiap warga Negara mau berjuang untuk  mensejahterakan dirinya, keluarga,dan lingkungannya. Diri pribadi umat manusia akan tentram apabila atmanya menguasai budhi,budhinya menguasai manah,manahnya menguasai perasaan atau manahnya dikuasai oleh rajas,rajasnya dikuasai oleh tamas, dan tamasnya dikuasai oleh sattwam.
Pemimpin Negara harus memiliki konsep – konsep kepemimpinan yang utama untuk dapat menata Negaranya. Hal ini dapat berarti kewibawaan pemimpin Negara harus didasarkan pada kewibawaan yang murni dan bukan atas kewibawaan yang dilandisi oleh kekuasaan.
Fungsi Kepemimpinan
Berdasarkan tinjauan terminologis, etimolis dan semantik serta berdasar kutipan-kutipan terjemahan mantra Veda dan terjemahan sloka-sloka kitab Arthasastra maka dapat dirumuskan  fungsi-fungsi kepemimpinan dalam Hindu atas dua jenis fungsi, yaitu:
1.         Melindungi masyarakat, memberikan rasa aman, bertanggung jawab serta memberikan bimbingan kepada warganya untuk turut mewujudkan rasa aman dan tentram dikalangan mereka (fungsi security).
2.         Mewujudkan kemakmuran bersama-sama anggota masyarakat untuk mewujudkan kesejahtraan, kemakmuran dan melepaskan pederitaan masyarakat lahir dan batin (fungsi prosperity).
Kepemimpinan yang berlandaskan ajaran Agama Hindu tentunya dapat mengaktualisasikan ajaran Agama Hindu. Untuk itu fungsi-fungsi agama bagi kehidupan manusia harus disadari dan dipahami oleh seorang pemimpin, sebab membahas kepemimpinan Hindu tidak dapat melepaskan diri untuk tidak mengkaji ajaran Agama Hindu.  Dalam hubungannya dengan kehidupan manusia, agama dan juga pemimpin atau kepemimpinan mempunyai fungsi-fungsi sebagai berikut :
1.         Sebagai factor motivatif, mendorong, mendasari, melandasi cita-cita dan amal perbuatan manusia dalam seluruh aspek kehidupannya.
2.         Sebagai faktor kreatif, produktif dan innovatif, mendorong dan mengharuskan untuk tidak hanya melakukan kerja produktif saja, tetapi juga kreatif dan innovatif.
3.         Sebagai faktor integratif, memadukan segenap aktivitas manusia baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat dalam berbagai bidang kehidupan. Keyakinan dan penghayatan terhadap ajaran agama akan menghindarkan manusia dari situasi dan kepribadiannya yang pecah. Dengan keutuhan kepribadiannya itu manusia akan mampu menghadapi berbagai macam tantangan dan resiko kehidupan.
4.         Sebagai faktor sublimatif atau transformatif, mampu mengubah sikap dan prilaku, perkataan maupun perbuatan sesuai sesuai dengan ajaran agama.
5.         Sebagai faktor inspiratif, memberikan inspirasi bagi pengembangan seni dan budaya yang dijiwai oleh Agama Hindu.


Asas – Asas Kepemimpinan Hindu
Hindu sebagai agama tertua di dunia sudah tentu menjadi agama yang paling kaya akan sastra – sastra agamanya. Berbagai macam ajaran agama dimilikinya, yang terutama sekali kepemimpinan Hindu bersumber dari kitab suci Weda dan diajarkan oleh para orang-orang suci. Kepemimpinan Hindu juga banyak mengacu pada tatanan alam semesta yang merupakan ciptaan dari Tuhan Yang Maha Esa.
Adapun konsep-konsep Kepemimpinan Hindu yang banyak diajarkan dalam sastra dan susastra-nya antara lain : Sad Warnaning Rajaniti, Catur Kotamaning Nrpati, Tri Upaya Sandi, Pañca Upaya Sandi, Asta Brata, Nawa Natya, Pañca Dasa Paramiteng Prabhu, Sad Upaya Guna, Pañca Satya dan lain-lain. Berikut ini rincian dari konsep-konsep kepemimpinan Hindu.

A.    Sad Warnaning Rajaniti
Sad Warnaning Rajaniti atau Sad Sasana adalah enam sifat utama dan kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang raja. Konsep ini ditulis Candra Prkash Bhambari dalam buku “Substance of Hindu Politic”. Adapun bagian-bagian Sad Warnaning Rajaniti ini adalah :
1.      Abhigamika, artinya seorang raja atau pemimpin harus mampu menarik perhatian positif dari rakyatnya.
2.      Prajña, artinya seorang raja atau pemimpin harus bijaksana.
3.      Utsaha, artinya seorang raja atau pemimpin harus memiliki daya kreatif yang tinggi.
4.      Atma Sampad, artinya seorang raja atau pemimpin harus bermoral yang luhur.
5.      Sakya samanta, artinya seorang raja atau pemimpin harus mampu mengontrol bawahannya dan sekaligus memperbaiki hal-hal yang dianggap kurang baik.
6.      Aksudra Parisatka, artinya seorang raja atau pemimpin harus mampu memimpin sidang para menterinya dan dapat menarik kesimpulan yang bijaksana sehingga diterima oleh semua pihak yang mempunyai pandangan yang berbeda-beda.

B.     Catur Kotamaning Nrpati

Catur Kotamaning Nrpati merupakan konsep kepemimpinan Hindu pada jaman Majapahit sebagaimana ditulis oleh M. Yamin dalam buku “Tata Negara Majapahit”.  Catur Kotamaning Nrpati adalah empat syarat utama yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Adapun keempat syarat utama tersebut adalah :
·         Jñana Wisesa Suddha, artinya raja atau pemimpin harus memiliki pengetahuan yang luhur dan suci. Dalam hal ini ia harus memahami kitab suci atau ajaran agama.
·         Kaprahitaning Praja, artinya raja atau pemimpin harus menunjukkan belas kasihnya kepada rakyatnya. Raja yang mencintai rakyatnya akan dicintai pula oleh rakyatnya. Hal ini sebagaimana perumpamaan singa (raja hutan) dan hutan dalam Kakawin Niti Sastra I.10 berikut ini :
Singa adalah penjaga hutan, akan tetapi juga selalu dijaga oleh hutan. Jika singa dengan hutan berselisih, mereka marah, lalu singa itu meninggalkan hutan. Hutannya dirusak binasakan orang, pohon-pohonnya ditebangi sampai menjadi terang, singa yang lari bersembunyi dalam curah, di tengah-tengah ladang, diserbu dan dibinasanakan.
·         Kawiryan, artinya seorang raja atau pemimpin harus berwatak pemberani dalam menegakkan kebenaran dan keadilan berdasarkan pengetahuan suci yang dimilikinya sebagainya disebutkan pada syarat sebelumnya.
·         Wibawa, artinya seorang raja atau pemimpin harus berwibawa terhadap bawahan dan rakyatnya. Raja yang berwibawa akan disegani oleh rakyat dan bawahannya.

C.    Tri Upaya Sandhi
Di dalam Lontar Raja Pati Gundala disebutkan bahwa seorang raja harus memiliki tiga  upaya agar dapat menghubungkan diri dengan rakyatnya. Adapun bagian-bagian Tri Upaya Sandi adalah :
·         Rupa, artinya seorang raja atau pemimpin harus mengamati wajah dari para rakyatnya. Dengan begitu ia akan tahu apakah rakyatnya sedang dalam kesusahan atau tidak.
·         Wangsa, artinya seorang raja atau pemimpin harus mengetahui susunan masyarakat (stratifikasi sosial) agar dapat menentukan pendekatan apa yang harus digunakan.
·         Guna, artinya seorang raja atau pemimpin harus mengetahui tingkat peradaban atau kepandaian dari rakyatnya sehingga ia bisa mengetahui apa yang diperlukan oleh rakyatnya.

D.    Pañca Upaya Sandhi
Dalam Lontar Siwa Buddha Gama Tattwa disebutkan ada lima tahapan upaya yang harus dilakukan oleh seorang raja dalam menyelesaikan persoalan-persoalan yang menjadi tanggung jawab raja. Adapun bagian-bagian dari Pañca Upaya Sandi ini adalah :
·         Maya, artinya seorang pemimpin perlu melakukan upaya dalam mengumpulkan data atau permasalahan yang masih belum jelas duduk perkaranya (maya).
·         Upeksa, artinya seorang pemimpin harus meneliti dan menganalisis semua data-data tersebut dan mengkodifikasikan secara profesional dan proporsional.
·         Indra Jala, artinya seorang pemimpin harus bisa mencarikan jalan keluar dalam memecahkan persoalan yang dihadapi sesuai dengan hasil analisisnya tadi.
·         Wikrama, artinya seorang pemimpin harus melaksanakan semua upaya penyelesaian dengan baik sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan.
·         Logika, artinya seorang pemimpin harus mengedepankan pertimbangan-pertimbangan logis dalam menindak lanjuti penyelesaian permasalahan yang telah ditetapkan.

E.     Asta Brata
Semua raja harus memuja Asta Brata ini. Karena Asta Brata ini merupakan delapan landasan sikap mental bagi seorang pemimpin. Adapun delapan bagian Asta Brata tersebut adalah :
·         Indra Brata, kepemimpinan bagaikan Dewa Indra atau Dewa Hujan; Di mana hujan itu berasal dari air laut yang menguap. Dengan demikian seorang pemimpin berasal dari rakyat harus kembali mengabdi untuk rakyat.
·         Yama Brata, kepemimpinan yang bisa menegakkan keadilan tanpa pandang bulu bagaikan Sang Hyang Yamadipati yang mengadili Sang Suratma.
·         Surya Brata, kepemimpinan yang mampu memberikan penerangan kepada warganya bagaikan Sang Surya yang menyinari dunia.
·         Candra Brata, mengandung maksud pemimpin hendaknya mempunyai tingkah laku yang lemah lembut atau menyejukkan bagaikan Sang Candra yang bersinar di malam hari.
·         Bayu Brata,  mengandung maksud pemimpin harus mengetahui pikiran atau kehendak (bayu) rakyat dan memberikan angin segar untuk para kawula alit atau wong cilik sebagimana sifat Sang Bayu yang berhembus dari daerah yang bertekanan tinggi ke rendah.
·         Baruna Brata, mengandung maksud pemimpin harus dapat menanggulangi kejahatan atau peyakit masyarakat yang timbul sebagaimana Sang Hyang Baruna membersihkan segala bentuk kotoran di laut.  
·         Agni Brata, mengandung maksud pemimpin harus bisa mengatasi musuh yang datang dan membakarnya sampai habis bagaikan Sang Hyang Agni.
·         Kwera atau Prthiwi Brata, mengandung maksud seorang pemimpin harus selalu memikirkan kesejahteraan rakyatnya sebagaimana bumi memberikan kesejahteraan bagi umat manusia dan bisa menghemat dana sehemat-hematnya seperti Sang Hyang Kwera dalam menata kesejahteraan di kahyangan.

F.     Nawa Natya
Dalam Lontar Jawa Kuno yang berjudul “Nawa Natya” dijelaskan bahwa seorang raja dalam memilih pembantu-pembantunya (menterinya). Ada sembilan kriteria yang harus diperhatikan oleh seorang raja dalam memilih para pembantunya. Sembilan kriteria inilah yang dikenal sebagai Nawa Natya. Adapun kesembilan kriteria itu adalah:
·         Prajña Nidagda (bijaksana dan teguh pendiriannya).
·         Wira Sarwa Yudha (pemberani dan pantang menyerah dalam setiap medan perang).
·         Paramartha (bersifat mulia dan luhur)
·         Dhirotsaha (tekun dan ulet dalam setiap pekerjaan)
·         Wragi Wakya (pandai berbicara atau berdiplomasi)
·         Samaupaya (selalu setia pada janji)
·         Lagawangartha (tidak pamrih pada harta benda)
·         Wruh Ring Sarwa Bastra (bisa mengatasi segala kerusuhan)
·         Wiweka (dapat membedakan mana yang baik dan yang buruk)

G.    Pañca Dasa Pramiteng Prabhu
Dalam Lontar Negara Kertagama, Rakawi Prapañca menuliskan keutamaan sifat-sifat Gajah Mada sebagai Maha Patih Kerajaan Majapahit. Sifat-sifat utama itu pula yang mengahantarkan Majapahit mencapai puncak kejayaannya. Sifat-sifat utama tersebut ada 15 yang disebut sebagai Pañca Dasa Pramiteng Prabhu. Adapun kelima belas bagian dari Pañca Dasa Pramiteng Prabhu tersebut adalah :
·         Wijayana (bijaksana dalam setiap masalah)
·         Mantri Wira (pemberani dalam membela negara)
·         Wicaksananengnaya (sangat bijaksana dalam memimpin)
·         Natanggwan (dipercaya oleh rakyat dan negaranya)
·         Satya Bhakti Prabhu (selalu setia dan taat pada atasan)
·         Wagmiwak (Pandai bicara dan berdiplomasi)
·         Sarjawa Upasama (sabar dan rendah hati)
·         Dhirotsaha (teguh hati dalam setiap usaha)
·         Teulelana (teguh iman dan optimistis)
·         Tan Satrsna (tidak terlihat pada kepentingan golongan atau pribadi)
·         Dibyacita (lapang dada dan toleransi)
·         Nayakken Musuh (mampu membersihkan musuh-musuh negara)
·         Masihi Samasta Bawana (menyayangi isi alam)
·         Sumantri (menjadi abdi negara yang baik)
·         Gineng Pratigina (senantiasa berbuat baik dan menghindari pebuatan buruk)

H.    Sad Upaya Guna
Dalam Lontar Rajapati Gondala dijelaskan ada enam upaya yang harus dilakukan oleh seorang raja dalam memimpin negara. Keenam upaya ini disebut juga sebagai Sad Upaya Guna. Adapun keenam upaya tersebut adalah : Siddhi (kemampuan bersahabat); Wigrha (memecahkan setiap persoalan); Wibawa (menjaga kewibawaan); Winarya (cakap dalam memimpin); Gascarya (mampu menghadapi lawan yang kuat) dan Stanha (menjaga hubungan baik).
Dalam lontar yang sama disebutkan pula ada 10 macam orang yang bisa dijadikan sahabat oleh Raja. Kesepuluh macam tersebut adalah orang yang :
1.      Satya (jujur)
2.      Arya (orang besar/mulia)
3.      Dharma (baik)
4.      Asurya (dapat mengalahkan musuh)
5.      Mantri (bisa mengabdi dengan baik)
6.      Salya Tawan (banyak kawannya)
7.      Bali (kuat dan sakti)
8.      Kaparamarthan (mempunyai visi yang jelas)
9.      Kadiran (tetap pendiriannya)
10.  Guna (banyak ilmunya)

I.       Pañca Satya
Selain upaya, sifat dan kriteria sebagaimana yang telah disebutkan di atas, masih ada satu lagi landasan bagi pemimpin Hindu dalam melaksanakan tugasnya sehari-hari. Landasan ini ada lima yang dikenal sebagai Pañca Satya. Lima Satya ini harus dijadikan sebagai landasan bagi seorang pemimpin Hindu di manapun dia berada. Kelima landasan itu adalah :
1.      Satya Hrdaya (jujur terhadap diri sendiri / setia dalam hati)
2.      Satya Wacana (jujur dalam perkataan / setia dalam ucapan)
3.      Satya Samaya (setia pada janji)
4.      Satya Mitra (setia pada sahabat)
5.      Satya Laksana (jujur dalam perbuatan)
Kelima ini juga harus dijadikan pedoman dalam hidupnya. Sehingga ia akan menjadi seorang pemimpin yang hebat, berwibawa, disegani dan sebagainya.
Tingkat keberhasilan dari seorang pemimpin dalam memimpin itu sendiri ditentukan oleh dua faktor, yaitu : faktor usaha manusia (Manusa atau jangkunging manungsa) dan faktor kehendak Tuhan (Daiwa atau jangkaning Dewa). Sementara tingkat keberhasilannya bisa berupa penurunan (Ksaya), tetap atau stabil (Sthana) dan peningkatan atau kemajuan (Vrddhi).

Sifat-Sifat Kepemimpinan Hindu
Sifat dan sikap yang dimiliki seorang pemimpin merupakan penentu berhasil atau tidaknya seorang pemimpin dalam menjalankan roda pemnerintahan. Sifat dan sikap yang dimiliki oleh pemimpin dapat disempurnakan dengan mendalami, mempedomani, dan mengamalkan ajaran-ajaran serta berbagai ilmu pengetahuan yang dipelajari.
Menurut Prof. Arifin Abdul Rachman dalam bukunya yang berjudul  “Kerangka Pokok-pokok Mengenai Management Umum” menyebutkan bahwa terdapat tiga golongan sifat-sifat para pemimpin, antara lain:
1.      Sifat-sifat pokok, yaitu sifat-sifat dasar yang dimiliki oleh setiap pemimpin, antara lain adil, suka melindungi/mengayomi, penuh inisiatif, penuh daya tarik, dan penuh kepercayaan pada diri sendiri.
2.      Sifat-sifat khusus karena pengaruh tempat, yaitu sifat-sifat yang pada pokoknya sesuai dengan keperibadian bangsa, seperti bangsa Indonesia dengan Pancasila sebagai keperibadiannya, sebagai dasar Negara, dan cita-cita bangsa.
3.      Sifat-sifat khusus karena pengaruh dari berbagai macam atau golongan pemimpin, seperti pemimpin partai politik, pemimpin keagamaan, pemimpin serikat buruh, dan sebagainya.
Dalam lontar Raja Pati Gondala disebutkan ada sepulu hal yang patut dijadikan sahabat oleh seorang pemimpin, yaitu:
1.        Satya, artinya kejujuran
2.        Arya, artinya orang besar
3.        Dharma, artinya kebajikan
4.        Asurya, artinya orang yang dapat mengalahkan musuh
5.        Mantri, artinya orang yang dapat mengalahkan kesusahan
6.        Salyatawan, artinya orang yang banyak sahabatnya.
7.        Bali, artinya orang yang kuat dan sakti.
8.        Kaparamarthan, artinya kerohanian
9.        Kadiran, artinya orang yang tetap pendiriannya
10.    Guna, artinya orang yang pandai.
Demikianlah sifat-sifat yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin agar dapat memimpin masyarakatnya dengan baik sehingga tercapai tujuan bangsa dan Negara yang dipimpinnya.
Penutup
Sebagai kata penutup, maka saya menegaskan kepada para generasi muda Hindu agar bisa mengambil nilai-nilai luhur dari konsep-konsep kepemimpinan Hindu tersebut. Implementasikanlah konsep-konsep kepemimpinan Hindu tersebut dalam kehidupan sehari-hari agar nantinya ada banyak pimpinan-pimpinan yang berasal dari generasi muda Hindu. Jika tidak sekarang mulai dioba untuk dipraktekkan, lalu kapan lagi?

0 komentar:

Poskan Komentar